Alat Penyulingan Air Laut ada di Padang Lho?

May 2, 2010 § Leave a comment

Gempa 29 september 2009 membawa “berkah” bagi masyarakat sumatera barat, diantaranya adalah dikenalnya sumatera barat di dunia International, banyaknya bantuan asing yang masuk. Salah satu bantuan asing yang masuk adalah alat penyulingan air laut bantuan pemerintah Australia. Dari alat tersebut air laut disuling menggunakan membran filter bertekanan sehingga dihasilkan air layak minum yang dapat di konsumsi masyarakat. Namun air yang di produksi masih minim mineral-mineral yang di butuhkan bagi tubuh.

berikut beberapa dokumentasi alat yang terletak di Lolong, Kota Padang

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Plumbing

April 7, 2009 § 4 Comments

  • Sistem penyediaan air bersih

Kebutuhan air bersih gedung ini dipenuhi dengan penyedian 4 buah tangki atas sebagai penampung air dengan kapasitas masing-masing tangki adalah 5 m3 dan total seluruh simpanan air pada tangki atas adalah 20 m3. Jalur pipa air bersih dirancang oleh kepala tukang plambing tanpa didahului dengan perhitungan rinci. Diameter pipa tegak air bersih yang digunakan adalah 1¼ inci dan diameter pipa cabang horizontal adalah ¾ inci. Nilai unit beban alat plambing yang digunakan diperkirakan sebagai berikut: Alat Plambing:

  • Keran Air Kloset = 1
  • Keran Air Wastafel = 1

(Alat Plambing Kelas Tangki Gelontor)

Dari skema sistem penyedian air bersih yang terlampir pada gambar 2.1 diperkirakan jumlah unit alat plambing yang dilayani oleh 1 buah saf yang terpasang yang identik dengan saf yang lainnya, maka jumlahnya sebagai berikut:

  • Keran air untuk kloset terpasang untuk 1 saf sebanyak 27 buah dengan nilai total unit beban alat plambing adalah 27;
  • Wastafel terpasang pada 1 saf sebanyak 7 buah dengan nilai total unit beban alat plambing adalah 7;
  • Sehingga total unit beban alat plambing air bersih 1 saf adalah 34;
  • Dengan menggunakan diagram perkiraan laju aliran air berdasarkan beban unit alat plambing yang tercantum pada Lampiran 3, maka diperkirakan besarnya laju aliran pada pipa tegak distribusi air bersih adalah 280 liter per menit;
  • Dalam 1 toilet yang terdiri dari 3 buah keran air kloset, 6 buah keran air wudhuk, dan 1 buah wastafel, maka laju aliran untuk total beban unit alat plambing 1 toilet sebesar 10 diperkirakan laju aliran untuk masing-masing pipa cabang horizontal yang identik adalah sebesar 100 liter per menit;

Seluruh data di atas berguna untuk memeperkirakan kehilangan tekan air yang terjadi pada sistem yang tidak direncanakan tersebut. Sehingga, untuk melihat apakah tinggi tekan yang tersedia antara tangki atas dengan cabang horizontal tertinggi yaitu pada lantai 3 dapat mengimbangi kehilangan tekan yang ditimbulkan sepanjang aliran yang dilalui menuju ke cabang tersebut, maka digunakan perhitungan sebagai berikut:

  • Dengan panjang pipa cabang (diameter ¾ inci = 20 mm) menuju alat plambing terjauh pada toilet tertinggi yaitu ± 8,5 meter dan panjang pipa tegak (diameter 1¼ inci = 32 mm) menuju cabang tertinggi yaitu 6,5 meter, dengan menggunakan diagram headloss (m/m kolom air) untuk pipa PVC kaku yang digunakan yang terdapat pada Lampiran 3, maka di dapat kehilangan tekan total dari cabang tertinggi tersebut sebesar ± 2,8 meter.
  • Tinggi keran air dari lantai pada keran air paling ujung dari cabang teratas adalah 0,7 meter, maka tinggi tekan yang harus tersedia untuk cabang tertinggi tersebut sekurang-kurangnya 2,8 + 0,7 = 3,5 meter.

Secara umum untuk memastikan air dapat mengalir ke alat plambing terjauh (keran air untuk kloset) pada cabang tertinggi. Dari ketersediaan tinggi tekan sebesar 4 meter yang diperoleh dari elevasi lantai 4 dengan lantai 3 dan kehilangan tekan sebesar 3,5 meter maka dapat dinyatakan air dalam sistem mampu mengalir dengan baik. Namun, menurut Noerbambang dan Morimura (1993) bahwa tekanan yang dibutuhkan untuk keran biasa adalah 3 kg/cm2 (3 m). Hal ini berarti tekanan kerja pada cabang teratas sistem peyediaan air bersih tersebut memenuhi kebutuhan yang diperlukan.

Empat buah tangki atas yang terpasang dengan kapasitas total seluruh tangki adalah 20 m3 merupakan kapasitas yang cukup untuk melayani kebutuhan air bersih gedung ini. Walaupun perencana tidak menggunakan perhitungan rinci tentang desain volume tangki, namun kapasitas tangki atas yang diperlukan dapat diperkirakan dengan menggunakan metode beban hunian gedung yang terdapat pada tabel 6.1 dan jumlah pemakaian air per hari untuk setiap penghuni gedung yang dapat dilihat pada tabel 6.2. Dengan jumlah ruang belajar. Jumlah orang yang dapat ditampung dalam satu lantai, ruang atau mesanin harus ditentukan dengan mempertimbangkan kegunaan atau fungsi bangunan, tata letak lantai tersebut, dengan cara:

  • Menghitung total jumlah tersebut dengan membagi luas lantai dari tiap bagian lantai dengan jumlah m2 per-orang sebagaimana tercantum pada Tabel 3.1. Sesuai jenis penghunian, tidak termasuk area yang diperuntukkan untuk lif, tangga, ramp, eskalator, koridor, hall, lobby dan ruang sejenis, dan service duct dan yang sejenis, ruang sanitasi atau penggunaan tambahan lainnya; atau
  • Mengacu kepada kapasitas tempat duduk di ruang atau bangunan gedung pertemuan; atau
  • Cara lain yang sesuai untuk memperkirakan kapasitasnya.

Tabel 6.1

Luasan Per-Orang Sesuai Penggunaannya (Beban Penghunian)

Sumber: Lampiran Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum Republik Indonesia

Nomor: 10/Kpts/2000, Tanggal: 1 Maret 2000 / BAB III.

  • Berdasarkan jumlah pemakai (penghuni)

Metode ini didasarkan pada pemakaian air rata-rata sehari dari setiap penghuni dan perkiraan jumlah penghuni. Metode ini praktis digunakan untuk tahap perencanaan atau juga perancangan. Apabila jumlah penghuni diketahui, atau ditetapkan untuk sesuatu gedung maka angka tersebut dipakai untuk menghitung pemakaian air rata-rata sehari berdasarkan standar mengenai pemakaian air per orang per hari untuk sifat penggunaan gedung tersebut. Tetapi kalau jumlah penghuni tidak diketahui, biasanya ditaksir berdasarkan luas lantai dan menetapkan kepadatan hunian per luas lantai. Luas lantai gedung dimaksud adalah luas lantai efektif yang berkisar antara 55-80% dari luas seluruhnya. Angka pemakaian air yang diperoleh dengan metode ini biasanya digunakan untuk menetapkan volume tangki bawah, tangki atap dan pompa. Sedangkan ukuran pipa yang diperoleh dengan metode ini hanyalah pipa penyediaan air (misalnya pipa dinas) dan bukan untuk menentukan ukuran pipa-pipa dalam seluruh jaringan. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2

Pemakaian Air Rata-rata per Orang setiap Hari

No.

Jenis Gedung

Pemakaian air rata-rata sehari

(liter)

Jangka waktu pemakaian air rata-rata sehari

(jam)

Perbandingan

luas lantai

efektif/total

(%)

Keterangan

1 Perumahan mewah

250

8 – 10

42 – 45

Setiap penghuni
2 Rumah biasa

160 – 250

8 – 10

50 – 53

Setiap penghuni
3 Apartemen

200 – 250

8 – 10

45 – 50

Mewah 250 liter

Menengah 180 liter

Bujangan 100 liter

4 Asrama

120

8

Bujangan
5 Rumah sakit Mewah>1000

Menengah 500 – 1000

Umum

350 – 500

8 – 10

45 – 48

(setiap tempat tidur pasien)

Pasien luar 8 liter

Keluarga 160 liter

Staf 120 liter

6 Sekolah dasar

40

5

58 – 60

Guru 100 liter
7 SLTP

50

6

58 – 60

Guru 100 liter
8 SLTA atau PT

80

6

Guru/dosen 100 liter
9 Rumah toko

100 – 200

8

Penghuni 160 liter
10 Gedung kantor

100

8

60 – 70

Setiap pegawai
11 Toserba

3

7

55 – 60

Pemakaian hanya untuk kakus belum termasuk restoran
12 Pabrik/industri

pria 60

wanita 100

8

Per orang setiap giliran
13 Stasiun /terminal

3

15

Setiap penumpang
14 Restoran

30

5

Penghuni 160 liter
15 Restoran umum

15

7

Penghuni 160 liter

Pelayan 160 liter

70% tamu perlu 15 ltr/orang untuk kakus

16 Gedung pertunjukan

30

5

53 – 55

Setiap penonton (untuk 1 kali)
17 Gedung bioskop

10

3

– idem –
18 Toko pengecer

40

6

30 liter/ tamu, 150 liter/staf atau 5 liter per hari/ m2 lantai
19 Hotel

250 – 300

10

Setiap tamu

Staf 120-150 liter

Penginapan 200 ltr

20 Peribadatan

10

2

Jumlah jemaah
21 Perpustakaan

25

6

Setiap pembaca
22 Bar

30

6

Setiap tamu
23 Perk. sosial

30

Setiap tamu
24 Kelab malam

120 – 350

Setiap tamu
25 Gedung perkmpl.

150 – 200

Setiap tamu
26 Laboratorium

100 -200

8

Setiap staf

Sumber: Morimura dan Noerbambang, 2000

Pengolahan Air Minum

March 26, 2009 § 1 Comment

SEDIMENTASI

Unit sedimentasi merupakan peralatan yang berfungsi untuk memisahkan solid dan liquid dari suspensi untuk menghasilkan air yang lebih jernih dan konsentrasi lumpur yang lebih kental melalui pengendapan secara gravitasi. Secara keseluruhan, fungsi unit sedimentasi dalam instalasi pengolahan adalah:

a.   Mengurangi beban kerja unit filtrasi dan memperpanjang umur pemakaian unit penyaring selanjutnya;

b.   Mengurangi biaya operasi instalasi pengolahan.

Berdasarkan konsentrasi dan kecenderungan partikel berinteraksi, proses sedimentasi terbagi atas tiga macam:

1.   Sedimentasi TIpe I/Plain Settling/Discrete particle

Merupakan pengendapan partikel tanpa menggunakan koagulan. Tujuan dari unit ini adalah menurunkan kekeruhan air baku dan digunakan pada grit chamber. Dalam perhitungan dimensi efektif bak, faktor-faktor yang mempengaruhi performance bak seperti turbulensi pada inlet dan outlet, pusaran arus lokal, pengumpulan lumpur, besar nilai G sehubungan dengan penggunaan perlengkapan penyisihan lumpur dan faktor lain diabaikan untuk menghitung performance bak yang lebih sering disebut dengan ideal settling basin.

2.   Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)

Pengendapan material koloid dan solid tersuspensi terjadi melalui adanya penambahan koagulan, biasanya digunakan untuk mengendapkan flok-flok kimia setelah proses koagulasi dan flokulasi.

Pengendapan partikel flokulen akan lebih efisien pada ketinggian bak yang relatif kecil. Karena tidak memungkinkan untuk membuat bak yang luas dengan ketinggian minimum, atau membagi ketinggian bak menjadi beberapa kompartemen, maka alternatif terbaik untuk meningkatkan efisiensi pengendapan bak adalah dengan memasang tube settler pada bagian atas bak pengendapan untuk menahan flok–flok yang terbentuk.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan efisiensi bak pengendapan adalah:

  • Luas bidang pengendapan;
  • Penggunaan baffle pada bak sedimentasi;
  • Mendangkalkan bak;
  • Pemasangan plat miring.

3.   Hindered Settling (Zone Settling)

Merupakan pengendapan dengan konsentrasi koloid dan partikel tersuspensi adalah sedang, di mana partikel saling berdekatan sehingga gaya antar pertikel menghalangi pengendapan paertikel-paertikel di sebelahnya. Partikel berada pada posisi yang relatif  tetap satu sama  lain dan semuanya mengendap pada suatu kecepatan yang konstan. Hal ini mengakibatkan massa pertikel mengendap sebagai suatu zona, dan menimbulkan suatu permukaan kontak antara solid dan liquid.

Jenis sedimentasi yang umum digunakan pada pengolahan air bersih adalah sedimentasi tipe satu dan dua, sedangkan jenis ketiga lebih umum digunakan pada pengolahan air buangan.

Operasional dan Pemeliharaan

  • Pengontrolan kondisi pengendapan flok pada tangki dilakukan dengan frekuensi  4 kali sehari. Proses pembentukan flok yang tidak sempurna pada proses koagulasi dan flokulasi mengakibatkan banyaknya flok kecil yang terbawa ke bak penyaring sehingga meningkatkan  beban penyaring;
  • Pengontrolan kualitas clarified water untuk memeriksa efisiensi bak pengendapan. Efisiensi pengendapan yang jelek mengakibatkan meningkatnya beban pengolahan pada unit filtrasi;
  • Penyisihan schum, sludge yang mengapung dan pertumbuhan algae pada dinding tangki, baffle, dan  lounders terutama pada musim panas;
  • Pengontrolan beban permukaan dan flow rate melalui observasi visual dengan melihat ketinggian air pada weir pelimpah, bila debit air yang diolah terlalu besar maka muka air  akan melebihi ketinggian weir loading;
  • Pengurasan lumpur  yang dilakukan pada clarified water secara otomatis dan manual menurut ketebalan lumpur yang dilakukan dengan menggunakan pompa penguras.

FILTRASI

Proses filtrasi merupakan penyaringan suspended solid dan koloidal solid dari air baku menggunakan media berpori seperti pasir, antrasit, garnet. Fungsi utama dari unit filtrasi adalah menyaring semua flok-flok halus yang tidak terendapkan pada unit sedimentasi. Proses filtrasi air baku dapat dilakukan tanpa didahului oleh koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi bila kekeruhan air baku kecil dari 10 NTU. Jenis-jenis filter menurut jumlah media yang digunakan:

a.   Saringan media tunggal;

b.   Saringan media ganda;

c.   Saringan  multi media.

Karakteristik butiran media adalah faktor penentu efisiensi proses filtrasi. Ukuran media yang efektif didapatkan dengan menentukan nilai effective size (ES), yaitu ukuran ayakan yang melewatkan 10% berat pasir, dan uniformity coefficient (UC), yaitu ukuran ayakan yang melewatkan 60% berat pasir. Berdasarkan kecepatan penyaringan, unit filter dibagi atas dua bagian, yakni:

1.   Saringan Pasir Lambat

Þ digunakan apabila kekeruhan air baku < 10 NTU.

2.   Saringan Pasir Cepat

Þ digunakan apabila kekeruhan air baku > 10 NTU.

Bila unit filtrasi menggunakan media lebih dari satu maka diusahakan agar kedua media memiliki kecepatan pengendapan yang berbeda dimana media paling bawah memiliki berat yang lebih sehingga lebih cepat mengendap, sehingga media tidak tercampur pada saat pencucian (backwash). Pencucian filter (backwash) dilakukan setiap hari dengan pompa backwash atau menggunakan tekanan air reservoar yang disambungkan ke pipa backwash filter melalui jalur by-pass. Keuntungan dari sistem yang kedua adalah efisien dalam operasional dan pemeliharaan dimana tidak dibutuhkan pompa backwash, energi listrik, dan perawatan pompa. Sistem ini biasanya digunakan jika perbedaan elevasi antara intake dan instalasi pengolahan cukup besar.

Pengontrolan kinerja filter ini dilihat dari beberapa indikator, yaitu:

  • Kekeruhan filtered water £ 0,5 NTU;
  • Durasi operasi filter diantara dua backwash;
  • Rasio jumlah air yang digunakan pada proses backwash terhadap air yang tersaring sebelum backwash, filter yang terpelihara baik memiliki rasio    2-3%;
  • Volume air yang difilter per unit luas media filter selama operasi filter. Dikenal dengan Unit Filter Run Volume (UFRV). Untuk filter normal  besarnya nilai UFRV = 37,85 m3   (10.000 gallon).
  • Kehilangan media butiran selama backwash harus selalu dikontrol dan diminimalisir, untuk media pasir kehilangan normal 1-2% dari kedalaman total filter , untuk media antrasit kehilangan normal  3-5% pertahun;
  • Pencucian filter dilakukan dengan pembukaan katup backwash secara perlahan-lahan sampai tinggi air menutupi seluruh permukaan lapisan filter, baru kemudian flow rate backwash diperbesar hingga titik full-scale, jika bukaan katup backwash dilakukan secara mendadak maka dapat terjadi pengangkatan media penyangga (kerikil) ke atas media penyaring, fenomena ini dikenal dengan overlapping yang mengakibatkan susunan media penyaring menjadi tidak terkontrol, sehingga bak harus dikeringkan untuk diperiksa.

DESINFEKSI

Desinfeksi adalah pembasmian  secara selektif mikroorganisme patogen yang ada dalam air reservoar. Sebelum air bersih didistribusikan proses desinfeksi mutlak dilakukan sebaik apapun hasil pengolahan yang diperoleh. Desinfeksi dapat dilakukan menggunakan dua macam agen desinfektan, yaitu:

    • agen kimia :     Calcium Hyphochloride (CaOCl2), Chlorine Diokside (ClO2), Bromine Chloride (BrCl), Ozon (O3), Cl2
    • agen fisik   :     Sinar ultra violet

Proses pembunuhan mikroorganisme patogen oleh agen desinfektan terjadi melalui beberapa fase, yakni:

1.   Perusakan dinding sel mikroorganisme;

2.   Merubah permeabilitas sel;

3.   Merubah sifat koloidal mikroorganisme;

4.   Menghalangi aktivitas enzim.

Dalam instalasi pengolahan air bersih jenis desinfektan  yang paling sering digunakan adalah Calcium Hipochloride. Dosis chlor yang digunakan didasarkan pada daya pengikat chlor (DPC) air baku dan kebutuhan waktu kontak. Sisa chlor yang  diinginkan pada saluran distribusi berkisar antara 0,3-0,5 ppm .

Operasional dan Pemeliharaan

  • Pembuatan larutan bahan kimia dilakukan dalam interval waktu tertentu tergantung debit pengolahan dan kapasitas pembubuh bahan kimia;
  • Kapasitas pompa pembubuh diatur untuk memberikan konsentrasi yang tepat.  Pembersihan tangki pembubuh dan motor mixer penggerak dilakukan setiap hari oleh operator intalasi;
  • Pemeriksaan kebocoran tangki pembubuh, pompa injeksi, pipa pembubuh dan penyumbatan pada pipa pembubuh dilakukan secara rutin setiap hari;
  • Pemeliharaan kebersihan peralatan tangki dan dinding serta lantai ruangan pembubuh dari noda-noda percikan pembuatan larutan.

RESERVOAR

Reservoar yang digunakan pada instalasi pengolahan air bersih berfungsi untuk menampung air hasil pengolahan sebelum didistribusikan, serta melindungi air hasil pengolahan dari kontaminasi oleh air hujan, debu, algae maupun sinar matahari langsung. Kedalaman efektif reservoar umumnya berkisar antara            3 hingga 6 meter. Reservoar diletakkan pada akhir instalasi dengan muka level air lebih rendah dari muka air unit filter, dan diusahakan tidak ada fluktuasi. Volume reservoar dirancang sebesar 15-20% dari kebutuhan air per hari.

Operasional dan Pemeliharaan.

  • Pengontrolan terhadap kemungkinan bocornya dinding bak reservoar dan kontaminasi oleh pertikel-partikel di udara dilakukan secara rutin setiap hari.  Infiltrasi air hujan/air kotor dari luar bangunan dapat terjadi dan menurunkan kualitas air yang ditampung dalam bangunan;
  • Pengurasan terhadap lumpur hasil endapan flok-flok halus yang lolos dari unit filter dilakukan dalam jangka waktu 6 bulan sekali;
  • Pembersihan interior bangunan dengan bantuan alat penggosok sederhana dilakukan oleh beberapa orang operator, pengecatan eksterior bangunan reservoar dilaksanakan dalam jangka waktu sekali setahun;
  • Pembersihan lingkungan disekitar reservoar dari genangan air dan timbunan kotoran lain yang dapat merusak struktur bangunan dan mengurangi kualitas air yang ditampung.

Pengolahan Air Minum

March 26, 2009 § Leave a comment

Prasedimentasi

Prasedimentasi merupakan proses pengendapan grit secara gravitasi sederhana tanpa penambahan bahan kimia koagulan. Kegunaan proses prasedimentasi adalah untuk melindungi peralatan mekanis bergerak dan mencegah akumulasi grit pada jalur transmisi air baku dan proses pengolahan selanjutnya. Pertimbangan dasar dalam mendesain bak prasedimentasi adalah:

a. Lokasi perletakan bak prasedimentasi

Penempatan bak prasedimentasi pada lokasi intake akan memaksimalkan kegunaan bak karena grit tersisihkan lebih awal dan menekan kemungkinan akumulasi grit pada saluran/pipa transmisi air baku.

b. Jumlah bak yang dibutuhkan

Bak prasedimentasi dibangun dalam bentuk tunggal yang memiliki dua kompartemen atau dua bak terpisah, sehingga bila satu kompartemen dibersihkan, kompartemen yang lain masih dapat beroperasi sehingga supplai air ke instalasi tidak terganggu.

c. Bentuk bak prasedimentasi

Bentuk bak persegi panjang memiliki kinerja lebih baik dari bentuk bak bujur sangkar karena memiliki kemampuan untuk meredam terjadinya pusaran air yang akan menurunkan efisiensi pengendapan. Perbandingan panjang dan lebar yang dianjurkan adalah 4 : 1.

d. Ukuran grit yang disisihkan

Partikel yang disisihkan pada unit prasedimentasi berukuran 1,2 -1,5 mm.

Operasional dan Pemeliharaan

    • Pengontrolan kualitas air baku dilakukan sebelum air ditransmisikan ke unit instalasi pengolahan dengan membawa sampel air baku ke laboratorium;
    • Pembersihan sampah dan puing-puing material yang terkumpul pada screen atau mengapung di permukaan air terutama setelah terjadi hujan dilakukan setiap hari oleh operator intake;
    • Pengontrolan kinerja pompa air baku secara rutin untuk memelihara kemampuan pompa dan memperpanjang umur pakai pompa dalam menghisap dan menyalurkan air baku.
  1. Usaha pemeliharaan yang perlu dilakukan pada bak prasedimentasi adalah pengurasan dengan pompa penguras atau secara manual yang dilakukan dalam jangka waktu 24 jam. Pengurasan dilakukan selama periode kebutuhan air minimum, dimana valve penguras diputar dan air baku dibuang selama beberapa menit sampai lumpur yang menumpuk terkuras habis dengan menggunakan pompa penguras lumpur pada masing-masing kompartemen;

Koagulasi dan Flokulasi

March 26, 2009 § 1 Comment

KOAGULASI

Koagulasi merupakan proses destabilisasi muatan partikel koloid, suspended solid halus dengan penambahan koagulan disertai dengan pengadukan cepat untuk mendispersikan bahan kimia secara merata. Dalam suatu suspensi, koloid tidak mengendap (bersifat stabil) dan terpelihara dalam keadaan terdispersi, karena mempunyai gaya elektrostatis yang diperolehnya dari ionisasi bagian permukaan serta adsorpsi ion-ion dari larutan sekitar. Pada dasarnya koloid terbagi dua, yakni koloid hidrofilik yang bersifat mudah larut dalam air (soluble) dan koloid hidrofobik yang bersifat sukar larut dalam air (insoluble). Bila koagulan ditambahkan ke dalam air, reaksi yang terjadi antara lain adalah:

  • Pengurangan zeta potensial (potensial elektrostatis) hingga suatu titik di mana gaya van der walls dan agitasi yang diberikan menyebabkan partikel yang tidak stabil bergabung serta membentuk flok;
  • Agregasi partikel melalui rangkaian inter partikulat antara grup-grup reaktif pada koloid;
  • Penangkapan partikel koloid negatif oleh flok-flok hidroksida yang mengendap.

Untuk suspensi encer laju koagulasi rendah karena konsentrasi koloid yang rendah sehingga kontak antar partikel tidak memadai, bila digunakan dosis koagulan yang terlalu besar akan mengakibatkan restabilisasi koloid. Untuk mengatasi hal ini, agar konsentrasi koloid berada pada titik dimana flok-flok dapat terbentuk dengan baik, maka dilakukan proses recycle sejumlah settled sludge sebelum atau sesudah rapid mixing dilakukan. Tindakan ini sudah umum dilakukan pada banyak instalasi untuk meningkatkan efektifitas pengolahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi antara lain:

1. Kualitas air meliputi gas-gas terlarut, warna, kekeruhan, rasa, bau, dan kesadahan;

2. Jumlah dan karakteristik koloid;

3. Derajat keasaman air (pH);

4. Pengadukan cepat, dan kecepatan paddle;

5. Temperatur air;

6. Alkalinitas air, bila terlalu rendah ditambah dengan pembubuhan kapur;

7. Karakteristik ion-ion dalam air.

Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di lapangan adalah alumunium sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis koagulan lain. Sedangkan kapur untuk pengontrol pH air yang paling lazim dipakai adalah kapur tohor (CaCO3). Agar proses pencampuran koagulan berlangsung efektif dibutuhkan derajat pengadukan > 500/detik, nilai ini disebut dengan gradien kecepatan (G).

Untuk mencapai derajat pengadukan yang memadai, berbagai cara pengadukan dapat dilakukan, diantaranya:

1. Pengadukan Mekanis

Dapat dilakukan menggunakan turbine impeller, propeller, atau paddle impeller.

2. Pengadukan Pneumatis

Sistem ini menggunakan penginjeksian udara dengan kompresor pada bagian bawah bak koagulasi. Gradien kecepatan diperoleh dengan pengaturan flow rate udara yang diinjeksikan.

3. Pengadukan hidrolis

Pengadukan cepat menggunakan sistem hidrolis dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya melalui terjunan air, aliran air dalam pipa, dan aliran dalam saluran. Nilai gradien kecepatan dihitung berdasarkan persamaan sebelumnya. Sementara besar headloss masing-masing tipe pengadukan hidrolis berbeda-beda tergantung pada sistem hidrolis yang dipakai. Untuk pengadukan secara hidrolis, besar nilai headloss yang digunakan sangat mempengaruhi efektifitas pengadukan. Nilai headloss ditentukan menurut tipe pengadukan yang digunakan, yaitu terjunan air, aliran dalam pipa, atau aliran dalam saluran (baffle).

a. Terjunan hidrolis

Metode pengadukan terjunan air merupakan metode pengadukan hidrolis yang simple dalam operasional. Besar headloss selama pengadukan dipengaruhi oleh tinggi jarak terjunan yang dirancang. Metode ini tidak membutuhkan peralatan yang bergerak dan semua peralatan yang digunakan berupa peralatan diam/statis.

peace

Gambar 3.2 Terjunan Hidrolis

b. Aliran dalam pipa

Salah satu metoda pengadukan cepat yang paling ekonomis dan simple adalah pengadukan melalui aliran dalam pipa. Metoda ini sangat banyak digunakan pada instalasi-instalasi berukuran kecil dengan tujuan menghemat biaya operasional dan pemeliharaan alat. Efektivitas pengadukan dipengaruhi oleh debit, jenis dan diameter pipa, dan panjang pipa pengaduk yang digunakan.

c. Aliran dalam saluran (baffle)

Bentuk aliran dalam saluran baffle ada dua macam, yang paling umum digunakan yaitu pola aliran mendatar (round end baffle channel) dan pola aliran vertikal (over and under baffle).

Operasional dan Pemeliharaan.

  • Pemeriksaan kualitas air baku di laboratorium instalasi sangat diperlukan untuk menentukan dosis koagulan yang tepat, pemeriksaan yang perlu dilakukan diantaranya mengukur kekeruhan air (turbidity) dan derajat keasaman (pH) air baku. Dosis koagulan ditentukan berdasarkan percobaan jar-test, sedangkan pH air baku ditentukan dengan komparator pH;
  • Pengontrolan debit koagulan yang masuk ke splitter box dilakukan setiap jam oleh operator instalasi;
  • Pemeriksaan clogging pada saluran/pipa feeding dan pompa pembubuh larutan koagulan dilakukan setiap harinya oleh operator instalasi, dan pemeriksaan clogging pada orifice diffuser;

FLOKULASI

Proses flokulasi dalam pengolahan air bertujuan untuk mempercepat proses penggabungan flok-flok yang telah dibibitkan pada proses koagulasi. Partikel-partikel yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta melakukan proses tarik-menarik dan membentuk flok yang ukurannya makin lama makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupakan faktor penting dalam desain bak flokulasi. Jika nilai gradien terlalu besar maka gaya geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok, sebaliknya jika nilai gradien terlalu rendah/tidak memadai maka proses penggabungan antar partikulat tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit dihasilkan. Untuk itu nilai gradien kecepatan proses flokulasi dianjurkan berkisar antara 90/detik hingga 30/detik. Untuk mendapatkan flok yang besar dan mudah mengendap maka bak flokulasi dibagi atas tiga kompartemen, dimana pada kompertemen pertama terjadi proses pendewasaan flok, pada kompartemen kedua terjadi proses penggabungan flok, dan pada kompartemen ketiga terjadi pemadatan flok.

Pengadukan lambat (agitasi) pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan metoda yang sama dengan pengadukan cepat pada proses koagulasi, perbedaannya terletak pada nilai gradien kecepatan di mana pada proses flokulasi nilai gradien jauh lebih kecil dibanding gradien kecepatan koagulasi.

Operasional dan Pemeliharaan.

  • Penyisihan schum yang mengapung pada bak flokulasi dilakukan setiap hari secara manual menggunakan alat sederhana (jala), biasanya dilakukan pada pagi hari;
  • Pengontrolan ukuran flok yang terbentuk melalui pengamatan visual;
  • Pemeriksaan kemungkinan tumbuhnya algae pada dinding tangki dan baffle;

d. Pengontrolan kecepatan mixer jika pengadukan dilakukan menggunakan mechanical mixer. Pengoperasian mixer membutuhkan perawatan yang lebih besar dari penggunaan flokulator baffle;

Intake

March 26, 2009 § Leave a comment

Intake merupakan bangunan/alat untuk mengambil air dari sumbernya. Intake yang dibangun harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain kehandalan dalam menyediakan air secara kontiniu, keamanan dalam beroperasi dan pembiayaan yang minimum. Kapasitas intake harus mampu melayani kebutuhan maksimum harian. Dalam pembangunan intake hal-hal yang harus diperhatikan antara lain adalah: lokasi harus aman dari arus deras, terletak di hulu sungai sehingga aman dari pencemaran, posisi intake yang benar agar air baku dapat disadap secara konstan sesuai dengan kebutuhan baik pada musim kemarau maupun pada musim hujan. Jenis-jenis intake menurut sumber air adalah brouncaptering untuk mata air, sumur dangkal, sumur dalam, sumur artesis dan desinfiltrasion gallery atau pipa untuk air tanah, serta bermacam-macam jenis intake untuk air permukaan seperti yang akan diuraikan di bawah ini.

  • Intake Tower

Dibangun sedekat mungkin ke pinggiran sungai, tetapi dengan kedalaman minimum 3 meter. Puncak intake (ruangan pompa) berada 1,5 meter di atas muka air tertinggi.

  • Shore Intake

Shore intake memiliki variasi bentuk yang tergantung kepada situasi lapangan, tetapi yang pasti terletak di pinggiran sungai. Jenis-jenis shore intake yang umum digunakan antara lain adalah:

      • Siphone Well Intake

Ciri khas dari intake ini adalah memiliki saluran air masuk ke bangunan intake berupa pipa, sehingga tekanan air yang berfluktuasi tidak memberi pengaruh pada interior intake.

      • Floating Intake

Struktur intake yang ringkas diletakkan di atas sebuah pelampung yang terapung dan bergerak naik turun mengikuti fluktuasi muka air.

      • Suspended Intake

Memiliki karakteristik dimana pipa hisap dibenamkan ke dalam sumber air tanpa menggunakan bangunan pelindung dan langsung tercampur dengan aliran sumber air.

  • Intake crib

Struktur intake dibuat terbenam di dasar sungai dengan kedalaman besar dari 3 m dari permukaan air. Lokasi dipilih dengan resiko terkecil terhadap kemungkinan hanyut oleh arus sungai.

  • Intake pipe/conduit

Pengambilan air dari mata air dilakukan dengan pipa/saluran, dengan kecepatan maksimun 1,2-1,9 m/s untuk mencegah akumulasi sedimen pada saluran.

  • Infiltration gallery

Sistem ini memiliki galeri pipa dengan lubang yang banyak (perforated pipe) yang dibungkus dengan kerikil. Biasanya dibangun di bawah dasar sungai sejajar dengan tepi sungai.

Bagian-bagian dari suatu intake pada umumnya tergantung pada kebutuhan dan kondisi dimana intake tersebut didirikan, umumnya elemen-lemen intake terdiri atas:

1. Bangunan intake

Umumnya memiliki konstruksi beton bertulang (reinforced concrete) agar memiliki ketahanan yang baik terhadap kemungkinan hanyut oleh arus sungai.

2. Inlet intake

Inlet intake dapat berupa saluran segi empat atau bundar yang dilengkapi dengan bar screen untuk menyaring material kasar.

3. Saringan halus (Strainer)

Berfungsi untuk menyaring material yang mengapung dan ikan-ikan kecil yang dapat menghambat penghisapan air baku pada ujung pipa.

5. Suction well (intake well)

Adalah bangunan penampung air baku yang akan dihisap oleh pompa atau dialiri secara gravitasi. Intake well harus cukup lebar agar mudah dimasuki oleh operator saat melakukan pembersihan. Waktu detensi yang dianjurkan adalah kurang dari 20 menit.

6. Pipa backwash

Berfungsi untuk melakukan pengurasan intake well saat endapan pasir dan material lain sudah menumpuk, biasanya dilengkapi dengan valve penguras.

7. Pompa hisap dan ruangan pompa

Berada diatas sumur intake dengan jarak minimal 1,5 m dari muka air. Ruangan pompa harus cukup lebar dan nyaman untuk dimasuki oleh operator saat melakukan pengontrolan dan pembersihan.

Teknologi Pengolahan Air Minum

March 26, 2009 § 4 Comments

Beberapa Teknologi Pengolahan Air Minum

A. Kombinasi Karbon Aktif dan Ozonasi pada Proses Pengolahan Air Minum

Proses penjernihan air untuk mendapatkan air yang berkualitas telah dilakukan oleh manusia beberapa abad yang lalu. Pada tahun 1771, di dalam edisi pertama Encyclopedia Britanica telah dibicarakan fungsi filter (filtrasi) sebagai sistem penyaring untuk mendapatkan air yang lebih jernih. Perkembangan selanjutnya dari proses pengolahan air minum, telah menghasilkan bahwa pembubuhan zat pengendap atau penggumpal (koagulan) dapat ditambahkan sebelum proses penyaringan (filtrasi). Selanjutnya proses penggumpalan yang ditambahkan dengan proses pengendapan (sedimentasi) dan penyaringan (filtrasi) serta menggunakan zat-zat organik dan anorganik adalah merupakan awal dari cara pengolahan air. Kini ilmu pengetahuan telah berkembang dengan cepatnya, telah diciptakan/didesain sarana pengolahan air minum dengan berbagai sistem.

Sistem pengolahan air minum yang dibangun tergantung dari kualitas sumber air bakunya, dapat berupa pengolahan lengkap atau pengolahan sebagian. Pengolahan lengkap adalah pengolahan air minum secara fisik, kimia dan biologi, sedangkan pengolahan sebagian adalah pengolahan air minum yang tidak menggunakan semua cara tersebut, tetapi hanya salah satu atau dua cara saja. Pengolahan lengkap yang terdiri dari proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi dan filtrasi kemudian ditambahkan chlorinasi disebut sebagai pengolahan air minum sistem konvensional, seperti yang dipergunakan oleh hampir seluruh PDAM di Indonesia. Namun, pada saat ini, dengan banyaknya industri yang tumbuh di sepanjang sungai terutama industri dengan tingkat pencemaran berat seperti tekstil, logam, kimia dan lain-lain, serta tingginya tingkat pertumbuhan dan aktivitas manusia, telah mengakibatkan pencemaran pada sungai-sungai yang merupakan sumber air baku utama bagi produksi air minum di kota-kota besar.

Untuk mengatasi hal ini, telah dikembangkan Teknologi Pengolahan Air Sistem Maju (advanced system), di mana salah satu negara yang telah mengembangkannya adalah Jepang dengan mengkombinasikan sistem ozonasi dan penyerapan dengan karbon aktif. Ozon (O3) adalah molekul yang tersusun dari 3 (tiga) buah atom oksigen, senyawa ini merupakan oksidator yang kuat, sehingga dapat digunakan sebagai oksidator dalam penguraian zat/pencemar organik dalam proses pengolahan air. Ozon dibuat dari udara yang diperkaya dengan oksigen. Konsentrasi ozon yang dihasilkan dari udara berkisar antara 1,5-2,5% (berat/berat). Jika diproses dari bahan dasar oksigen murni dengan menggunakan generator yang sama, konsentrasi ozon dapat mencapai 3-5%.

Ozonasi merupakan proses pengolahan air yang relatif baru di Jepang, proses ini diteliti hampir 100 tahun. Dasar penerapannya diperoleh dari sumber artikel yang diterbitkan dan pengalaman operasional hingga proses desainnya. Ozon adalah gas yang bersifat racun, mudah terbakar, menggunakan sumber listrik bertegangan tinggi, dan jika sistemnya menggunakan oksigen sebagai gas umpan akan menjadi lebih berbahaya. Meskipun demikian, sistem ozonasi memberikan resiko bahaya lebih kecil dibandingkan sistem chlorinasi, karena sistemnya dapat segera dihentikan bila ozon bocor. Secara umum tahapan proses keseluruhan pengolahan air sistem maju adalah sebagai berikut: koagulasi sampai dengan filtrasi, ozonasi Karbon Aktif Granular (GAC) Chlorinasi. Ada kalanya filtrasi dilakukan pada tahap terakhir seperti di Fasilitas Pemurnian Air (FPA) Kanamachi, Tokyo, sedangkan di FPA Kunihima Osaka, ozonasi dilakukan sebanyak 2 kali yaitu sebelum dan sesudah filtrasi. FPA Kanamachi dibangun di antara fasilitas sedimentasi (pengendapan) dan filtrasi (penyaringan), kapasitas pemurnian per hari adalah 0,52 juta meter kubik. Fasilitas pemurnian air tersebut terdiri dari 10 tanki kontak ozon yang bertipe aliran atas bawah dengan ruangan bersekat tiga. Kedalaman air yang efektif yaitu 6 meter, waktu kontak ± 12 menit dan kecepatan umpan ozon maksimum 3 mg ozon/liter. Masing-masing tanki pengontak mempunyai ruang penahan yang mempunyai waktu retensi ± 6 menit. Fasilitas adsorbsi karbon aktif terdiri dari 24 tanki dan masing-masing mempunyai luas permukaan 100 m2. Sebagaimana letaknya, FPA Kanamichi dekat dengan laut, kualitas air baku dipengaruhi oleh proses di muara sungai. Pada tahun-tahun belakangan ini, pencemaran air baku terjadi karena urbanisasi yang cepat. Air buangan domestik mengandung pencemar organik seperti N-amonia dan surfaktan anionik (deterjen sintesis). Untuk mencapai penyisihan bau apek (musty odor) yang lebih stabil dan efektif, Badan Pengairan Pemerintah Daerah Metropolitan Tokyo (BWT) memutuskan untuk memperkenalkan pengolahan air sistem maju (advanced system), yaitu kombinasi pengolahan secara ozonasi dan penyerapan menggunakan karbon yang diaktivasi secara biologis (Biological Activated Carbon = BAC) yang mulai beroperasi pada bulan juni 1992. Sistem baru tersebut dapat menyisihkan bau apek, menjadi air yang layak bagi konsumen. Selain itu proses ini mampu menyisihkan surfaktan anionik, zat organik dan anorganik yang bersifat toxic (racun) sebesar 80%.

Adapun tahapan proses secara keseluruhan adalah sebagai berikut:

Koagulasi – Flokulasi – Sedimentasi – Ozonasi – Proses BAC – Chlorinasi – Filtrasi – Chlorinasi – Reservoar.

FPA Kanamichi dibangun dalam 2 tahap: Tahap pertama fasilitas mulai beroperasi pada bulan Juni 1992 dan tahap kedua pada bulan April 1996. Kapasitas total sistem ini adalah 520.000 m3/hari. Biaya konstruksi fasilitas tersebut adalah sekitar 30 bilyun yen atau kurang lebih 2 trilyun rupiah. Biaya ini tidak termasuk pengolahan ozonasi dan BAC, pompa, pipa transmisi antara fasilitas konvensional dan fasilitas pemurnian sistem maju.

B. Ultrafiltrasi Saring Zat Berbahaya dalam Air Minum

Penggunaan teknologi ultrafiltrasi dan membran untuk pengolahan air minum merupakan upaya terkini menghilangkan bahan berbahaya yang berukuran cukup kecil. Teknologi ultrafiltrasi ini bermanfaat untuk mengurangi bahan polutan di dalam air. Ukuran alat ini 2/100 mikron atau 0,02 mikron, sementara ukuran bakteri patogen adalah 0,5 mikron. Bila pengolahan air menggunakan ultrafiltrasi saat akan dipakai konsumen maka seluruh bakteri patogen bisa tersaring.

Di Singapura teknologi ini telah diterapkan, makanya Singapura berani menjamin airnya bersih sesuai dengan standar WHO.

Filtrasi atau cuci ulang ini akan jauh lebih bermanfaat meskipun harga air nantinya akan bertambah. Selain ultrafiltrasi, ada teknologi membran dalam pengelolaan air bersih. Menurut peneliti air Antoni Gunadi dan Nugro Raharjo dari BPPT, teknologi membran dapat menghilangkan rasa asin pada air maupun bakteri patogen. Biasanya teknologi ini digunakan untuk daerah kepulauan yang airnya bersumber dari laut. Dengan adanya teknologi ini, diharapkan konsumen akan mengonsumsi air yang benar-benar bersih. Masyarakat pun jarang terkena diare atau penyakit yang menyerang perut lainnya akibat dari air yang tidak higienis.

C. Pemurni Air Sistem Membran Reverse Osmosis

Membran reverse osmosis menghasilkan air murni 99,99%. Diameternya lebih kecil dari 0.0001 mikron (500,000 kali lebih kecil dibandingkan dengan sehelai rambut). Sama halnya dengan penyaring mikron, membran ini berfungsi membuang berbagai kotoran, bahan mikro, bakteri, virus dan sebagainya. Produk akhir adalah air bersih yang siap minum dan bebas bakteri patogen. Skema mekanisme kerja membran reverse osmosis dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Membran R.O. 0.0001 mikron

Gambar 3.6 Skema Mekanisme Kerja Membran Reverse Osmosis

Pemurnian (penyaringan air) dengan reverse osmosis melalui 4 tahap, yakni:

Penyaring air 1

Bahan fiber 5 mikron yang berfungsi menyaring bahan dalam air seperti: karat, pasir, kapur yang menyebabkan penyakit hati, perut, batu dan disfungsi pada organ tubuh. Juga menyaring mikroba seperti yeast (ragi) bir, fungi (jamur) yang menyebabkan penyakit membranmukus pada perut dan hati.

Penyaring air 2

Pre-karbon granular aktif berbentuk butiran yang berfungsi menyaring bahan dalam air seperti: bahan organik, bau, warna, bahan pencuci, klorin bahan penyebab kanker triklorometana. Juga menyaring acid amino, proteolipid (minyak busuk), racun serangga, pembunuh kuman, phosphorus organik bahan penyebab kanker, keracunan, sakit perut, muntah dan hepatitis.

Penyaring air 3

Membran reverse osmosis yang terbuat dari bahan Poly Amide TFC yang mempunyai daya saring membran 0.0001 mikron yang hebat dan berfungsi menyaring bahan dalam air seperti: karbon; bakteri; virus penyebab polio dan encephalitis; desinfektan penyebab iritasi pada rongga mulut, shock dan sesak napas; zat peluntur seperti: xenon perokside, sodium percarbonat, sodium perborat, oxalate yang menyebabkan inflamasi rongga mulut, pencernaan atas, usus, muntah, perut, liver, sakit kepala dan batu ginjal; senyawa kimia beracun seperti: potassium chlorate, cyanide bromide penyebab gangguan ginjal, muntah, sakit perut, jantung, anemia, nausea dan kanker; zat pewarna penyebab gangguan liver, syaraf dan ginjal, garam penyebab darah tinggi; logam berat (arsenik, plumbum, kadmium, merkuri, tembaga, seng, besi) penyebab gangguan syaraf, ginjal, kelenjar, sistem pencernaan dan darah.

Penyaring air 4

Post-carbon aktif berkualitas tinggi yang berfungsi menyaring bahan dalam air seperti: menyerap sisa bahan organik, bau, menjamin rasa dan kualitas air yang bermutu.

Tabel 3.1 Perbandingan Beberapa Metoda Pemurnian Air

Metoda Pemurnian Air

Kelebihan dan Kekurangan

1

Air Murni

Reverse Osmosis

  1. Air murni dengan kandungan oksigen yang tinggi dapat menguatkan sel-sel dan organ-organ tubuh, meningkatkan daya tahan dan daya penyembuhan tubuh;
  2. Bebas dari segala jenis logam berat, kotoran dan kuman. Mengandung zat mineral tanpa ion;
  3. Dapat diminum langsung.

2

Air Penukaran Ion
  1. Biaya operasi tinggi dan memerlukan penyelengaraan yang profesional;
  2. Hanya membuang logam berat tetapi masih mengandung banyak natrium yang dapat mengakibatkan hipertensi, pengapuran pembuluh darah dan masalah jantung;
  3. Bahan-bahan organik, bakteri dan virus tidak dapat disaring.

3

Air Penyulingan
  1. Biaya tinggi, penggunaan secara terus menerus akan memboroskan listrik dan harus selalu membersihkan endapan yang tertinggal secara rutin;
  2. Hasilnya dianggap sebagai air mati karena kekurangan oksigen dan berbau;
  3. Gagal untuk membuang bahan organik seperti triklorometana..

4

Air dari Penyaringan Karbon Teraktif
  1. Mutu berbeda dan terdapat perbedaan yang cukup besar dalam hasil;
  2. Tidak dapat membuang virus, logam berat, asbestos, nitrat dan bahan lain-lain;
  3. Mudah menjadi tempat pembiakan kuman dan bakteri.

5

Pengendapan
  1. Kualitas tidak stabil;
  2. Tidak dapat membuang bakteri, logam berat, asbestos, nitrat, garam, dsb
  3. Tempat pembiakan bakteri.

6

Air Mendidih
  1. Berfungsi untuk membunuh bakteri, tapi sisanya tetap tertinggal dalam air;
  2. Mempercepat reaksi antara bahan organik untuk bergabung dengan klorin yang membentuk triklorometana;
  3. Pada saat mendidih terjadi uap air (penguapan). Hal ini menyebabkan bertambahnya kepekatan bahan pencemaran air dan sisa kalsium.

3

Sterilisasi Ozon
  1. Hanya dapat membunuh bakteri, hasilnya lebih buruk dibandingkan dengan metode pendidihan;
  2. Biaya tinggi, harus menukar tabung lampu setiap 3-6 bulan;
  3. Tidak dapat menyaring keluar bahan pencemar.

4

Air Hasil Cahaya Ultra Violet
  1. Dapat membunuh bakteri, tetapi kurang efektif dibandingkan dengan air mendidih;
  2. Biaya tinggi, memerlukan penukaran tabung lampu setiap 3-6 bulan;
  3. Selain membunuh bakteri, ia tidak dapat menghapus kotoran lain.

5

Air Mineral
  1. 45% dari air mineral di pasaran mengandung bahan fosforus;
  2. Mutu berubah dan kebersihan tidak terjamin;
  3. Mahal.

Sumber: Meredith Holford, 2005

Where Am I?

You are currently browsing the BPAM category at Indonesiaku sayang, Indonesiaku Malang.