Koto Gadang, Desa Tokoh Terkenal…Tapi Sekarang??

June 25, 2010 § Leave a comment

Balai Adat Koto Gadang

KOTO GADANG sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 adalah sebuah desa di Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, sekitar 100 kilometer utara Padang. Atau sekitar 15 km barat Bukittinggi.

Sebelumnya Desa Koto Gadang dikenal sebagai sebuah Nagari (bahasa Sanskerta nagar, suatu kesatuan wilayah otonomi adat), yang membawahi Koto Subarang, Koto Gantiang, Koto Kaciak, Koto Tangah, Baliak Koto, dan Kapalo Koto. Setelah kemerdekaan RI, Nagari dijadikan pemerintahan resmi terendah di Sumbar, daerah yang kini berpenduduk sekitar 4,4 juta jiwa itu. Dengan diberlakukannya UU Nomor 5/1979 tersebut, status Nagari hanya menjadi kesatuan masyarakat adat. Dengan demikian, sah-sah saja kalau ada yang menyebutnya Desa Koto Gadang dan Nagari Koto Gadang.

Banyak tokoh dan cendekiawan terkenal dilahirkan di daerah yang berada di kaki Gunung Singgalang (2877 m) yang subur ini, sudah menjadi catatan dan bukti sejarah sedari dulu. Sebutlah misalnya, Soetan Sjahrir (1906-1966). Tokoh ini selesai studi di Negeri Belanda, kembali ke Indonesia dan memimpin Partai Nasional Indonesia, memperjuangkan kemerdekaan.

Sjahrir, Perdana Menteri pertama RI, meninggal di Swiss ketika berobat, setelah empat tahun dalam tahanan politik pemerintahan Soekarno. Begitu Presiden Soekarno mengetahui Sjahrir meninggal, Presiden langsung menganugerahi gelar Pahlawan Nasional. Ia dimakamkan di TMP Kalibata.

Kemudian Haji Agus Salim (1884-1954). Ia studi Islam sambil belajar di Jeddah. Pahlawan Nasional yang menguasai puluhan bahasa asing ini aktif dalam gerakan kemerdekaan, mulai tahun 1920. Setelah Indonesia Merdeka ia menjadi Menteri Luar Negeri (1947-1949). Meninggal di Jakarta dan dimakamkan di TMP Kalibata.

Koto Gadang

Ada Rohana Kudus (1884-1972) yang tercatat sebagai perempuan jurnalis pertama. Ada Mr Dr Mohamad Nasir (yang jadi Sekjen Gubernur Batavia), Ferdy Salim (mantan Duta Besar RI untuk Brunei Darussalam), Prof Dr Hanif Datuk Magek Labiah (guru besar dan Dubes RI untuk AS), Abd Muis (mantan Dubes RI di Praha), BA Masfar (mantan Kuasa Usaha Indonesia di Arab Saudi), dan tokoh pelukis terkenal seperti Haji Oesman Effendy dan Haji Hasan Jafar.

“Sedikitnya ada 10 jenderal TNI yang dilahirkan di Koto Gadang antara lain Rais Abin, OB Syaaf, Jasril Jacub, Niel Almatzir, Dan Anwar, Dr Nusmir, Z Bazar, K Rahman Dt Marajo, dan Syaiful Sulun,” kata Yusbar Yakub (60), Kepala Desa Koto Gadang.

Kalau dirunut, demikian Yusbar, ada lebih 70 tokoh lain yang masih menjabat atau sudah menjadi mantan, berasal dari Koto Gadang, dengan jabatan sebagai guru besar dan menjabat rektor, bekas atase, dokter, bekas direktur BUMN, bekas wali kota, bekas menteri, dan sebagainya.

Seperti Prof Dr Emil Salim (mantan Menteri KLH), Ir EH Nizar Datuk Kayo (Dirut PT Semen Tonasa), Ir Ichdan Nizar (Dirut PT Semen Padang), dan Ed Zoelverdi (jurnalis dan fotografer yang dijuluki Mat Kodak Indonesia) untuk menyebut beberapa nama. “Tidak bermaksud untuk menyombongkan, tetapi itulah kenyataan,” tandas Yusbar. Menurut Kepala Desa yang pensiunan guru itu, ada hal lain yang membuat Koto Gadang terkenal di Tanah Air dan di dunia, yakni telah berdirinya pusat
kegiatan kaum perempuan tahun 1915 bernama Keradjinan Amai Setia. Bersamaan dengan itu, Koto Gadang lantas dikenal luas sebagai penghasil seni kerajinan tradisional seperti sulaman dan perak.

***
KEINGINTAHUAN banyak orang tentang Koto Gadang, mungkin untuk menjawab pertanyaan selanjutnya; faktor apa dan bagaimana desa atau Nagari seluas lebih kurang 268 hektare itu bisa melahirkan banyak tokoh dan cendekiawan?

Menurut Yusbar, keluarga-keluarga di Koto Gadang sejak zaman penjajahan sampai sekarang tetap mengutamakan pendidikan. “Kalau masyarakat daerah lain di Sumbar merantau umumnya untuk berdagang, maka masyarakat Koto Gadang beda sendiri. Merantau untuk menuntut ilmu pengetahuan, kemudian jadi pegawai,” paparnya.

Koto Gadang

Tahun 1358, menurut data surat kabar Soeara Kemadjuan Kota Gedang, yang terbit di Koto Gadang tahun 1916, di Koto Gadang sudah berdiri sekolah yang bernama Rahmatun Niswan. Bekas bangunan sekolah tersebut masih ada sampai

sekarang dan kini menjadi gedung sekolah dasar (SD).Tahun 1856, dari 28 Sekolah Desa-masa belajar tiga tahun-yang berdiri di berbagai Nagari di Minangkabau atau Sumatera Barat, satu terdapat di Nagari Koto Gadang. Menurut laporan Steinmetz, sejak didirikan ada 416 murid sekolah desa. Namun hanya 75 orang yang selesai. Selebihnya putus di tengah jalan, karena
menikah atau lantaran berbagai sebab lain. Steinmetz menilai, kemajuan paling pesat tampak pada anak-anak Agam terutama dari Koto Gadang-yang rajin dan cerdas.

Koto Gadang

Sosiolog Dr Mochtar Naim mengungkapkan, ada nagari-nagari di mana pilihan jatuh pada keinginan menjadi pegawai; tetapi di Sumbar sampai sebegitu jauh hanya ada dua nagari saja di mana pekerjaan utama di rantau ialah menjadi pegawai. Yang pertama ialah Koto Gadang dan yang kedua Matur, keduanya di Kabupaten Agam. “Kedua nagari ini memilih menjadi pegawai bukan faktor kebetulan, melainkan benar-benar dengan kesengajaan,” paparnya, dalam suatu kesempatan.

Di Koto Gadang hal ini dimulai di awal abad 20 ketika pembaharuan dimasukkan oleh Laras Koto Kadang di waktu itu (Yahya Datuk Kayo, bertugas dari tahun 1894-1912) yang meramalkan bahwa hanya melalui pendidikan corak kehidupan  dapat didatangkan ke Koto Gadang.Dengan perencanaan yang sistematis dan dengan sistem kepemimpinan yang kharismatik, Yahya Datuk Kayo mendorong setiap anak lelaki dan perempuan pergi ke sekolah. Sekolah untuk anak laki-laki didirikan di tahun 1900 dan di tahun 1912 didirikan pula sekolah yang terpisah untuk anak-anak gadis Koto Gadang. Sebuah badan tersendiri yang dinamai studiefonds (dana pelajar) didirikan untuk mengumpulkan dana dari orang kampung guna mengirim
anak-anaknya melanjutkan studi di Jawa, dan bahkan di negeri Belanda.

Koto Gadang

Demi kepentingan pendidikan, demikian sebuah laporan di Soeara Kemadjuan Kota Gedang (1916), para orangtua yang waktu itu berpenghasilan rata-rata 15 Gulden per bulan, sanggup membayar uang sekolah anaknya yang mencapai 5

Gulden per bulan.Sebelum ada Hollands Inlandsche School (HIS)-sekolah dasar tujuh tahun dengan bahasa pengantar, Belanda-dan Meer Uitgebreid Lager Onderwojs (MULO) berdiri awal tahun 1900, sudah banyak anak Minang bersekolah ke

Stovia-sekolah tinggi kedokteran-di Jakarta, atau NIAS di Surabaya, terutama anak-anak Koto Gadang. Menurut data tahun 1926, dokter lulusan Stovia asal Minang berjumlah 32 orang.Semangat menuntut ilmu ini diteruskan sampai sekarang di Koto Gadang, yang akibatnya praktis setiap orang kampung di Koto Gadang melek huruf, pintar membaca dan menulis, serta pintar-pintar bahasa Belanda. Makanya jangan heran, tahun 1917, dari 2.415 penduduk, sebanyak 1.391 orang
di antaranya sudah bekerja, antara lain 297 orang jadi amtenar dan 31 orang menjadi dokter.

Penelitian yang dilakukan Mochtar Naim di tahun 1970-an menunjukkan, di antara 2.666 orang yang berasal dari Koto Gadang di tahun 1967, 467 atau 17,5 persen merupakan lulusan universitas. Di antaranya 168 orang menjadi dokter, 100 orang jadi insinyur, 160 orang jadi sarjana hukum dan kira-kira 10 orang doktorandus ekonomi dan bidang-bidang ilmu kemasyarakatan lainnya. Kemudian di tahun 1970, 58 orang lagi lulus universitas. “Jadi, dengan 525 orang lulusan universitas (tidak termasuk me-reka yang bergelar sarjana muda), Koto Gadang yang punya penduduk kurang dari 3.000 tak terkalahkan
barangkali oleh desa mana saja, bahkan tidak oleh masyarakat-masyarakat yang telah maju lainnya di dunia,” kata sosiolog yang kini menjadi anggota MPR RI utusan daerah Sumbar itu.

Itulah bukti yang terbantahkan sampai sekarang, bahwa Koto Gadang adalah desa yang dari dulunya sangat maju, banyak melahirkan tokoh dan cendekiawan kaliber nasional bahkan internasional. (yurnaldi)

for more photo click here.

Tagged: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Koto Gadang, Desa Tokoh Terkenal…Tapi Sekarang?? at Indonesiaku sayang, Indonesiaku Malang.

meta

%d bloggers like this: