Sistem Air Buangan dan Sprikler Plumbing

June 8, 2010 § Leave a comment

Dasar-dasar Sistem Penyaluran Air Buangan

Jenis Air Buangan

Air buangan atau sering juga disebut air limbah adalah semua cairan yang dibuang baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh-tumbuhan maupun yang mengandung sisa-sisa proses industri.

Air buangan dapat dibedakan atas (SNI,2000):

  • Air kotor

Air buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet dan air buangan mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plambing lainnya;

  • Air bekas

    Air buangan yang berasal dari alat-alat plambing lainnya, seperti: bak mandi (bath tub), bak cuci tangan, bak dapur, dan lain-lain;

  • Air hujan

Air hujan yang jatuh pada atap bangunan;

  • Air buangan khusus

    Air buangan ini mengandung gas, racun atau bahan-bahan berbahaya, seperti: yang berasal dari pabrik, air buangan dari laboratorium, tempat pengobatan, rumah sakit, tempat pemotongan hewan, air buangan yang bersifat radioaktif atau mengandung bahan radioaktif, dan air buangan yang mengandung lemak.

Sistem Penyaluran Air Buangan

Sistem pembuangan air terdiri atas (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Sistem pembuangan air kotor dan air bekas

Sistem ini terdiri atas 2 macam yaitu:

  • Sistem tercampur: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor dan air bekas kedalam satu saluran;
  • Sistem terpisah: sistem pembuangan yang mengumpulkan dan mengalirkan air kotor dan air bekas kedalam saluran yang berbeda.
  • Sistem penyaluran air hujan

    Pada dasarnya air hujan harus disalurkan melalui sistem pembuangan yang terpisah dari sistem pembuangan air bekas dan air kotor. Jika dicampurkan, maka apabila saluran tersebut tersumbat, ada kemungkinan air hujan akan mengalir balik dan masuk kedalam alat plambing terendah dalam sistem tersebut.

Dalam sistem penyaluran air buangan, air buangan yang biasanya mengandung bagian-bagian padat harus mampu dialirkan dengan cepat. Untuk maksud tersebut pipa pembuangan harus mempunyai ukuran dan kemiringan yang cukup dan sesuai dengan banyak dan jenis air buangan yang akan dialirkan. Sistem penyaluran air hujan pada prinsipnya hanya mengalirkan debit hujan yang terjadi di atap bangunan ke tempat yang diinginkan, seperti: drainase perkotaan.

Perangkap Air Buangan

Tujuan utama sistem pembuangan adalah mengalirkan air buangan dari dalam gedung keluar gedung, ke dalam instalasi pengolahan atau riol umum, tanpa menimbulkan pencemaran pada lingkungan maupun terhadap gedung itu sendiri. Karena alat plambing tidak terus menerus digunakan, pipa pembuangan tidak selalu terisi air dan dapat menyebabkan masuknya gas yang berbau ataupun beracun, bahkan serangga. Untuk mencegah hal ini, harus dipasang suatu perangkap sehingga bisa menjadi “penyekat” atau penutup air yang mencegah masuknya gas-gas tersebut. (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000)

Suatu perangkap harus memenuhi syarat-syarat berikut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Kedalaman air penutup

    Kedalaman air penutup ini biasanya berkisar antara 50 mm sampai 100 mm. Pada kedalaman 50 mm, kolom air akan tetap dapat diperoleh penutup air sebesar 25 mm dengan tekanan (positif maupun negatif) sebesar 25 mm. Angka 100 mm merupakan pedoman batas maksimum, walaupun batas ini tidak mutlak. Ada beberapa alat plambing khusus yang mempunyai kedalaman air penutup lebih dari 100 mm, tetapi perangkapnya dibuat dengan konstruksi yang mudah dibersihkan;

  • Konstruksinya harus sedemikian rupa agar selalu bersih dan tidak menyebabkan kotoran tertahan atau mengendap;
  • Konstruksinya harus sedemikian rupa sehingga fungsi air sebagai “penutup” tetap dapat terpenuhi;

    Kriteria yang harus dipenuhi untuk syarat ini adalah:

    • Selalu menutup kemungkinan masuknya gas dan serangga;
    • Mudah diketahui dan diperbaiki kalau ada kerusakan;
    • Dibuat dari bahan yang tidak berkarat.
  • Konstruksi perangkap harus cukup sederhana agar mudah membersihkannya karena endapan kotoran lama kelamaan akan tetap terjadi;
  • Perangkap tidak boleh dibuat dengan konstruksi di mana ada bagian bergerak ataupun bidang-bidang tersembunyi yang membentuk sekat penutup.

Perangkap alat plambing dapat dikelompokkan sebagai berikut (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Yang dipasang pada alat plambing
    • Perangkap jenis “P”, berbentuk menyerupai huruf “P” dan banyak digunakan. Perangkap jenis ini dapat diandalkan dan sangat stabil kalau dipasang pipa ven. Perangkap jenis “P” biasanya dipasang pada kloset, lavatory, dan lain-lain;
    • Perangkap jenis “S”, berbentuk menyerupai huruf “S” dan seringkali menimbulkan kesulitan akibat efek siphon, biasanya dipasang pada lavatory.
  • Yang dipasang pada pipa pembuangan
    • Perangkap jenis “U”, berbentuk menyerupai huruf “U” dan dipasang pada pipa pembuangan mendatar, umumnya untuk pembuangan air hujan. Kelemahan jenis ini adalah memberikan tambahan tahanan terhadap aliran. Perangkap jenis ini biasanya dipasang pada peturasan, pada pipa pembuangan air hujan di dalam tanah;
    • Perangkap jenis “tabung”, mempunyai sekat berbentuk “tabung”, sehingga mengandung air lebih banyak dibandingkan jenis-jenis lainnya sehingga air penutup tidak mudah hilang, biasanya dipasang pada floor drain dan bak cuci dapur.
  • Yang menjadi satu dengan alat plambing

    Perangkap jenis ini merupakan bagian dari alat plambing itu sendiri, misalnya pada kloset dan beberapa jenis peturasan;

  • Yang dipasang di luar gedung

    Contoh jenis ini adalah bak perangkap, yang berfungsi sebagai perangkap bila ujung pipa pembuangan terbenam dalam air di dalam bak tersebut.

Dasar-dasar Sistem Ven

Sistem ven merupakan bagian penting dalam sistem suatu pembuangan, sedangkan tujuan dari sistem ven ini antara lain (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Menjaga sekat perangkap dari efek sifon atau tekanan;
  • Menjaga aliran yang lancar dalam pipa pembuangan;
  • Mensirkulasi udara dalam pipa pembuangan.

Karena tujuan utama dari sistem ven ini adalah menjaga agar perangkap tetap mempunyai sekat air, oleh karena itu pipa ven harus dipasang sedemikian rupa agar mencegah hilangnya sekat air tersebut.

Jenis Sistem Ven

Sistem itu sendiri dapat dibedakan atas beberapa jenis yaitu (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Sistem ven tunggal (individual)

Pipa ven dipasang untuk melayani satu alat plambing dan disambungkan kepada sistem ven lainnya atau langsung terbuka ke udara luar;

  • Sistem ven lup

    Pipa ven yang melayani dua atau lebih perangkap alat plambing dan disambungkan kepada ven pipa tegak;

  • Sistem ven tegak

    Pipa ini merupakan perpanjangan dari pipa tegak air buangan diatas cabang mendatar pipa air buangan tertinggi;

  • Sistem ven lainnya, diantaranya:
    • Ven bersama

      Pipa ven yang melayani perangkap dari dua alat plambing yang dipasang bertolak belakang atau sejajar dan dipasang pada tempat di mana kedua pipa pengering alat plambing tersebut disambungkan bersama;

    • Ven basah

    Ven yang juga berfungsi sebagai pipa pembuangan;

    • Ven menerus

    Ven tegak yang merupakan kelanjutan dari pipa pembuangan yang dilayaninya;

    • Ven sirkit

      Ven cabang yang melayani dua perangkap atau lebih dan berpangkal dari bagian depan penyambungan alat plambing terakhir suatu cabang datar pipa pembuangan sampai ke pipa tegak ven;

    • Ven pelepas

      Pipa ven yang dipasang pada tempat khusus untuk menambah sirkulasi udara antara sistem pembuangan dan sistem ven.

Persyaratan pipa ven

Adapun persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem plambing antara lain (Soufyan M.Noerbambang dan Takeo Morimura,2000):

  • Kemiringan pipa ven

    Pipa ven harus dibuat dengan kemiringan cukup agar titik air yang terbentuk atau air yang terbawa masuk kedalamnya dapat mengalir secara gravitasi ke pipa pembuangan;

  • Cabang pada pipa ven

    Dalam membuat cabang pipa ven harus diusahakan agar udara tidak akan terhalang oleh masuknya air kotor atau air bekas manapun. Pipa ven untuk cabang mendatar pipa air buangan harus disambungkan secara vertikal pada bagian tertinggi dari penampang pipa cabang tersebut, jika terpaksa dapat disambungkan dengan sudut tidak lebih dari 45o terhadap vertikal. Syarat ini bertujuan untuk mencegah masuknya air buangan pada pipa yang dalam keadaan penuh ke dalam pipa ven;

  • Letak bagian mendatar pipa ven

    Dari tempat sambungan pipa ven dengan cabang mendatar pipa air buangan, pipa ven tersebut harus dibuat tegak sampai sekurang-kurangnya 150 mm di atas muka air banjir alat plambing tertinggi yang dilayani oleh ven tersebut, sebelum dibelokkan mendatar atau disambungkan kepada cabang pipa ven. Walaupun demikian cukup banyak ditemukan keadaan di mana terpaksa dipasang “pipa ven di bawah lantai”. Pipa ven semacam itu melayani pipa cabang mendatar air buangan dan dari tempat sambungannya dengan cabang mendatar tersebut pipa ven hanya dibuat pendek dari sambungannya dari arah tegak kemudian langsung dibelokkan mendatar masih dibawah lantai (tetapi letaknya masih berada di atas cabang mendatar tersebut);

  • Ujung pipa ven

    Ujung pipa ven harus terbuka ke udara luar, tetapi harus dengan cara yang tidak menimbulkan gangguan kesehatan.

Dasar-dasar Sistem Pencegahan Kebakaran

Prinsip dari sistem pencegahan kebakaran ini adalah harus selalu tersedia volume air yang cukup untuk keperluan pencegahan kebakaran, tanpa mengganggu pemakaian air bersih.

Pipa Tegak dan Slang Kebakaran

Pipa tegak dan slang kebakaran adalah suatu rangkaian perpipaan, katup, penyambung slang kebakaran, slang kebakaran, dan sistem penyediaan air yang digunakan untuk menanggulangi kebakaran.

Sistem dari pipa tegak dan slang kebakaran mempunyai berbagai jenis yaitu:

  1. Wet Stand Pipe System

    Yaitu pipa tegak dengan pipa yang selalu berisi air dan tekanan air pada sistem di jaga tetap. Katup suplai air pada sistem ini selalu dalam kondisi terbuka dan bila katup slang kebakaran dibuka maka air akan mengalir keluar;

  2. Dry Stand Pipe System

    Suatu pipa tegak yang tidak berisi air, di mana peralatan penyediaan air akan mengalirkan air ke sistem secara otomatis jika katup slang kebakaran dibuka;

  3. Sistem pipa tegak dengan pengadaan air ke sistem melalui operasi manual

    Yaitu dengan menggunakan kontrol jarak jauh yang terletak pada kotak slang kebakaran untuk menghidupkan suplai air;

  4. Sistem pipa tegak tanpa suplai air yang permanen

    Jenis ini digunakan untuk mengurangi waktu yang diperlukan petugas pemadam kebakaran untuk membawa slang kebakaran ke lantai atas pada gedung tinggi dan suplai air diperoleh dari mobil tangki pemadam kebakaran.

Jika dilihat dari manusia yang mengoperasikannya maka sistem pipa tegak dan slang kebakaran digolongkan atas 3 kelas pelayanan, yaitu:

  • Kelas 1

Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh petugas pemadam kebakaran dan mereka yang terlatih untuk menangani kebakaran besar dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 2,5″;

  • Kelas 2

    Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan sendiri sambil menunggu petugas pemadam kebakaran datang dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 1,5″;

  • Kelas 3

    Sistem pipa tegak dan slang kebakaran yang dioperasikan oleh penghuni bangunan dan petugas pemadam kebakaran dan ukuran slang yang digunakan berdiameter 1,5″ dan 2,5″.

Sprinkler

Sistem sprinkler otomatis akan bekerja jika fusible
bulb / fusible link penahan orifice kepala sprinkler pecah/meleleh akibat panas dari kebakaran, sehingga air menyembur keluar dari kepala sprinkler. Akibatnya tekanan air dari dalam pipa akan berkurang, katup pengontrol akan terbuka dan pompa akan bekerja memompakan air dari bak penampung ke jaringan pipa yang dibantu juga dengan pressure tank. Aliran air yang melalui katup pengontrol akan mengaktifkan tanda bahaya yang terletak di dekat katup kontrol.

Jenis-jenis sistem sprinkler adalah (Departemen Pekerjaan Umum, 1987):

  1. Wet Pipe System

Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada jaringan pipa berisi air yang bertekanan sepanjang waktu. Jika terjadi kebakaran, sprinkler akan diaktifkan oleh panas yang membuka penahan orifice kepala sprinkler dan air akan segera menyembur, akibatnya tekanan air pada pipa akan berkurang dan katup kontrol akan membuka dan mengaktifkan pompa kebakaran;

  1. Dry Pipe System

    Jenis ini menggunakan kepala sprinkler otomatis yang dipasang pada pipa berisi udara atau nitrogen yang bertekanan. Jika kepala sprinkler terbuka karena panas dari api, tekanan udara akan berkurang dan katup kontrol dry pipe akan terbuka oleh tekanan air, sehingga pompa kebakaran akan hidup dan air akan mengalir mengisi jaringan dan menyembur dari kepala sprinkler yang terbuka;

  2. Preaction System

    Sistem ini adalah sistem dry pipe dengan udara bertekanan atau tanpa tekanan pada pipa. Jika terjadi kebakaran maka alat deteksi akan bekerja dan mengaktifkan pembuka katup kontrol, sehingga air mengalir mengisi pipa dan keluar dari kepala sprinkler otomatis yang terbuka akibat panas dari api;

  3. Deluge System

    Sistem ini sama dengan preaction system, kecuali bahwa semua kepala dalam keadaaan terbuka. Jika api mengaktifkan peralatan deteksi, maka katup kontrol sprinkler akan terbuka dan air akan mengalir disepanjang pipa dan keluar dari semua kepala sprinkler pada daerah operasi dan membanjiri daerah operasi;

  4. Kombinasi Dry dan Preaction

    Sistem ini berisi udara bertekanan. Jika terjadi kebakaran, peralatan deteksi akan membuka katup kontrol air dan udara dikeluarkan pada akhir pipa suplai, sehingga sistem ini akan berisi air dan bekerja seperti wet pipe.

Sistem sprinkler yang ada didesain berdasarkan atas jenis hunian itu sendiri, seperti ukuran pipa, jarak kepala sprinkler, densitas semburan sprinkler dan kebutuhan airnya sendiri. Berdasarkan jumlah barang yang mudah terbakar dan sifat mudah terbakarnya, maka jenis hunian diklasifikasikan atas:

  • Hunian bahaya dengan kebakaran ringan

Adalah jenis hunian di mana jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong rendah dan kebakaran dengan pelepasan panas yang rendah. Contohnya: sekolah, rumah sakit, museum, perpustakaan, hotel, tempat tinggal, dan sebagainya;

  • Hunian bahaya dengan kebakaran sedang

    Jenis ini dibedakan atas 3 kelompok yaitu:

    • Kelompok I: Untuk sifat mudah terbakar yang rendah, jumlah bahan yang mudah terbakar menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah seperti: tempat parkir mobil, pabrik roti, pengolahan susu, pabrik elektronika, dan sebagainya;
    • Kelompok II: Untuk jumlah dan sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong menengah dan kebakaran dengan pelepasan panas menengah. Seperti: pabrik pakaian, tumpukan buku perpustakaan, percetakan, pabrik tembakau, dan sebagainya;
    • Kelompok III: Untuk jumlah dan atau sifat mudah terbakar dari isi gedung tergolong tinggi dan kebakaran dengan pelepasan panas yang tinggi, seperti : pabrik gula, pabrik kertas, pabrik ban, bengkel, dan sebagainya;
    • Hunian bahaya dengan kebakaran tinggi

      Yang termasuk kelas ini adalah hunian yang dianggap rawan terhadap bahaya kebakaran. Contohnya hanggar pesawat, pabrik plastik, perakitan bahan peledak, dan sebagainya.

Setiap sistem sprinkler harus memiliki sumber penyediaan air otomatis dengan kapasitas dan tekanan yang memadai untuk mensuplai sistem sprinkler dengan periode minimal 30 menit (Standar Nasional Indonesia, 2000). Sumber air untuk sistem sprinkler dapat diperoleh dari sistem air PAM, pompa kebakaran otomatis, tangki tekan, dan tangki gravitasi. Dalam penyediaan suplai air ada 2 alternatif sistem. Alternatif 1 penyediaan air bersih dan air pemadam kebakaran (sprinkler dan hidran) dilakukan dengan sistem tangki secara terpisah, sedangkan untuk alternatif 2 tangki penyediaan air bersih dan pemadam kebakaran digabung. Kelebihan dan kekurangan dari masing-masing alternatif dapat dilihat dari Tabel 2.3

Tabel Kelebihan dan Kekurangan Alternatif Tangki

Alternatif 1 (dipisah)

Alternatif 2 (digabung)

Kelebihan

Kekurangan

Kelebihan

Kekurangan

  • Tidak perlu pengolahan air untuk kebakaran.
  • Biaya pengolahan lebih murah.
  • Tidak ada air yang diam.
  • Membutuhkan tempat yang luas untuk perletakan tangki.
  • Sulit dalam pemeliharaan.
  • Tangki dapat diletakkan pada satu tempat.
  • Masih tersedia cadangan air jika listrik mati.
  • Lebih mudah dalam pemeliharaan.
  • Air yang telah diolah juga digunakan untuk kebakaran.
  • Adanya air yang diam.


Sumber: Noerbambang dan Morimura, 1993

Tagged:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sistem Air Buangan dan Sprikler Plumbing at Indonesiaku sayang, Indonesiaku Malang.

meta

%d bloggers like this: